Tulis
· 25 Oktober 2026

Enam Kata yang Menjebak Kita Saat Bicara tentang Allah

Sebelum, kemudian, di dalam, terbatas, diam, mimpi. Enam kata sehari-hari muncul di kolom komentar, dan semuanya kata ruang atau waktu. Apa yang terjadi bila kata-kata itu dipakai untuk Allah? Dari jam satelit GPS sampai pertanyaan seorang anak: Allah ada di mana?

Grid ruang-waktu yang melengkung di sekitar benda bermassa besar: cahaya dibelokkan, sebuah satelit di orbit, dan dua jam yang berdetak dengan laju berbeda.

Ini esai tentang enam kata yang kita pakai setiap hari: sebelum, kemudian, di dalam, terbatas, diam, dan mimpi. Keenamnya muncul dalam satu hari, di kolom komentar sebuah tulisan pendek tentang ruang dan waktu. Semuanya kata yang lahir dari pengalaman makhluk yang menempati tempat dan dilalui waktu. Pertanyaan esai ini sederhana: apa yang terjadi kalau kata-kata itu kita pakai untuk Allah?

Pertanyaan yang sama pernah saya dengar jauh lebih awal, dari anak laki-laki kami, waktu ia baru belajar agama.

"Allah ada di mana?"

Seingat saya keempat anak kami pernah menanyakan hal serupa, dengan kata-kata yang hampir sama. Yang pertama, kedua, ketiga, dan si bontot, masing-masing pada waktunya. Jawaban saya waktu itu selalu sama: "Allah selalu ada untuk kita."

Saya baru menyadari belakangan bahwa jawaban itu tidak menjawab pertanyaannya.

Enam Kata, Dua Asal

Setiap kata yang memancing salah paham berasal dari pengalaman tentang waktu, tentang ruang, atau keduanya.

Enam Kata, Dua Asal. Setiap kata yang memancing salah paham berasal dari pengalaman tentang waktu, tentang ruang, atau keduanya.

Rangkuman penulis.

I. JAM DI ORBIT LEBIH CEPAT

Mulai dari fisika, karena di sinilah kata "waktu" sendiri kehilangan sifat mutlaknya.

Kita terbiasa membayangkan waktu sebagai sesuatu yang mengalir sama di mana-mana. Teori relativitas umum Einstein mengatakan lain: massa melengkungkan ruang dan waktu sekaligus. Akibatnya, jam yang lebih dekat ke benda bermassa besar berdetak lebih lambat daripada jam yang lebih jauh.

Ini sudah diukur. Pada 1959 dan 1960, Robert Pound dan Glen Rebka di Harvard memasang sumber sinar gamma di puncak menara Jefferson Physical Laboratory dan detektor sekitar 22,5 meter di bawahnya. Mereka mengukur pergeseran frekuensi yang hanya bisa dijelaskan kalau waktu di bawah memang berjalan sedikit lebih lambat daripada waktu di atas.1 Selisih ketinggian sebuah gedung sudah cukup untuk membuat dua jam tidak sepakat.

Contoh yang lebih dekat ada di ponsel kita. Jam atom di satelit GPS bergerak sangat cepat, dan karena kecepatan itu ia berjalan sekitar 7 mikrodetik per hari lebih lambat. Tetapi satelit itu berada sekitar 20.200 kilometer di atas Bumi, di tempat gravitasi lebih lemah, sehingga jamnya berjalan sekitar 45 mikrodetik per hari lebih cepat. Hasil bersihnya: jam satelit maju sekitar 38 mikrodetik per hari dibanding jam di permukaan.2

Satu Hari, Dua Jam

Gravitasi yang lebih lemah membuat jam satelit lebih cepat, kecepatan membuatnya lebih lambat, dan selisih bersihnya harus dikoreksi setiap hari.

Satu Hari, Dua Jam. Gravitasi yang lebih lemah membuat jam satelit lebih cepat, kecepatan membuatnya lebih lambat, dan selisih bersihnya harus dikoreksi setiap hari.

Sumber: Richard Pogge, Ohio State University; Neil Ashby, Living Reviews in Relativity 2. Satuan: mikrodetik per hari.

Angka 38 mikrodetik terdengar kecil. Kalikan dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilometer per detik, dan hasilnya kira-kira 11 kilometer. Sistem penentu posisi yang tidak mengoreksi selisih itu akan menunjukkan tempat yang salah sejauh itu dalam satu hari.

Seorang pembaca berpendapat bahwa waktu hanyalah hasil membandingkan gerak satu benda dengan benda lain. Separuh pendapat itu benar: waktu memang selalu diukur dengan membandingkan. Tetapi di menara Harvard dan di orbit GPS, yang dibandingkan adalah dua jam yang sama-sama berdetak. Tidak perlu ada orang yang melihat keduanya supaya selisih itu muncul. Kalau waktu hanya kesan di kepala pengamat, insinyur tidak perlu mengoreksi apa pun di satelit. Mereka harus mengoreksinya karena selisih itu terjadi pada jamnya, bukan pada cara kita memandang.

II. TEMPAT FISIKA BERHENTI MENJAWAB

Bagian ini untuk pembaca yang ingin melihat persoalan ini dari fisika saja, sebelum masuk ke ilmu kalam.

Kalau massa melengkungkan ruang dan waktu, cahaya pun harus mengikuti lengkungan itu. Einstein menghitung bahwa cahaya bintang yang lewat di dekat Matahari akan dibelokkan sebesar 1,75 detik busur. Pada 29 Mei 1919, saat gerhana Matahari total, tim pengamat di Brasil bagian utara dan di sebuah pulau di lepas pantai barat Afrika memotret bintang-bintang di sekitar Matahari yang sedang tertutup Bulan. Hasilnya diumumkan pada 6 November 1919, dan posisi bintang-bintang itu bergeser seperti yang dihitung Einstein.3

Makin besar massa yang terkumpul di satu tempat, makin dalam lengkungannya. Pada titik tertentu lengkungan itu menjadi begitu dalam sehingga ada batas yang tidak bisa dilewati ke arah luar, bahkan oleh cahaya. Itulah lubang hitam. Pada 10 April 2019, tim Event Horizon Telescope mengumumkan gambar pertama lubang hitam di pusat galaksi M87, sekitar 55 juta tahun cahaya dari Bumi, dengan massa sekitar 6,5 miliar kali massa Matahari. Bagian gelap di tengah gambar itu adalah wilayah di balik batas tersebut.4

Waktu di dekat batas itu mengikuti aturan yang sama dengan jam di menara Harvard, hanya jauh lebih ekstrem. Bagi pengamat yang jauh, sebuah jam yang jatuh ke arah lubang hitam akan tampak berdetak makin lambat, dan makin mendekati batas, detaknya tampak hampir berhenti.

Lebih ke dalam lagi, teori Einstein meramalkan sebuah titik dengan kepadatan tak terhingga, yang disebut singularitas. Di titik itu, hukum fisika yang kita kenal tidak lagi berlaku.5 Sampai hari ini belum ada teori yang disepakati untuk menjelaskan apa yang terjadi di sana.

Dari kosmologi datang satu langkah lagi. Ruang dan waktu tidak hanya melengkung, tetapi juga mengembang. Pada 2003, Arvind Borde, Alan Guth, dan Alexander Vilenkin membuktikan bahwa alam semesta yang rata-rata terus mengembang cukup cepat tidak bisa memanjang tanpa batas ke masa lalu.6 Ada batas di belakangnya. Vilenkin sendiri mengatakan bahwa ia belum benar-benar memahami bagaimana alam semesta bermula.7

Jadi fisika sendiri sudah menemukan dua tempat di mana kata waktu tidak lagi bisa dipakai dengan arti biasanya: di dalam lubang hitam, dan di batas awal alam semesta. Fisika sedang bergerak ke arah jawaban. Kapan sampai, tidak ada yang tahu.

Saya sengaja menyebut pengakuan Vilenkin. Fisika bisa direvisi, dan iman tidak boleh dipasang di atas teori yang suatu hari bisa diganti. Yang bisa diambil dari bagian ini hanya satu hal: waktu bukan wadah kosong yang tetap. Waktu ikut berubah, ikut diukur, ikut punya batas. Waktu adalah bagian dari alam. Waktu adalah makhluk.

III. KATA WAKTU UNTUK YANG AZALI

Kalau waktu bagian dari alam, maka kata sebelum adalah kata milik alam.

Kita biasa berkata, "Allah ada sebelum ruang dan waktu." Kalimat itu dimaksudkan dengan benar, tetapi kata sebelum sendiri menunjuk ke urutan waktu: satu titik di garis waktu, lalu titik berikutnya. Kalau waktu belum ada, tidak ada urutan yang bisa ditunjuk oleh kata sebelum.

Rasulullah ﷺ menjawab pertanyaan tentang awal segala sesuatu dengan kalimat yang tidak memakai kata itu: Allah telah ada, dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya.8 Imam ath-Thahawi menulisnya dalam istilah ilmu kalam: qadimun bila ibtida', da'imun bila intiha'. Allah ada tanpa permulaan dan tetap ada tanpa akhir.9 Itulah yang dimaksud dengan azali. Azali bukan "sangat lama sekali". Azali berarti pertanyaan "sejak kapan" tidak berlaku.

Di sini saya harus jujur tentang sesuatu yang bisa terlihat seperti kelemahan argumen ini. Al-Qur'an menyebut Allah al-Awwal dan al-Akhir, Yang Pertama dan Yang Terakhir (Al-Hadid: 3). Dalam doa sebelum tidur, Rasulullah ﷺ menjelaskan nama-nama itu dengan kata yang terdengar seperti kata waktu dan kata ruang: Engkaulah Yang Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Yang Terakhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu; Yang Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu.10

Kata sebelum dan di atas ada di dalam doa itu. Tetapi perhatikan cara kalimatnya disusun. Setiap kata dipakai untuk meniadakan, tidak untuk menempatkan. Tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Kalimat itu tidak meletakkan Allah di satu titik pada garis waktu. Kalimat itu mengatakan tidak ada titik mana pun yang mendahului-Nya. Kata ruang dan kata waktu boleh dipakai untuk Allah ketika kata itu menolak keserupaan dengan makhluk. Kata itu menjadi masalah ketika dipakai untuk menunjuk tempat dan saat bagi-Nya.

Kata kedua, kemudian, datang dari seorang pembaca yang mengutip ayat: Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, tsumma istawa 'ala al-'arsy, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (Al-A'raf: 54). Ia berargumen bahwa kata tsumma menunjukkan urutan, sehingga Allah melakukan perbuatan dalam urutan waktu.

Argumen itu punya pendukung yang serius. Ibnu Taimiyah membaca tsumma dalam ayat ini sebagai penanda jeda dan urutan.11 Saya menyebutnya supaya jelas bahwa ini perbedaan pendapat yang panjang di dalam tradisi ulama, bukan soal satu pihak tidak membaca.

Pembaca lain menawarkan jalan tengah: perbuatan Allah punya urutan yang saling mendahului, tetapi urutan itu tidak bisa diukur dengan waktu manusia. Saya menghargai usaha itu, karena ia ingin menjaga dua hal sekaligus, yaitu kisah penciptaan dalam Al-Qur'an dan kesucian Allah dari waktu. Tetapi kata mendahului adalah kata sebelum dalam bentuk kata kerja. Mengatakan bahwa urutan itu tidak terukur tidak menghapus urutannya. Pertanyaannya tetap ada. Yang hilang hanya alat untuk mengukurnya.

Tetapi para mufassir juga mencatat bacaan lain. Ahli bahasa membedakan tsumma yang menunjukkan urutan waktu dari tsumma yang menunjukkan urutan penyampaian, yaitu urutan dalam kalimat, bukan dalam kejadian.12 Dalam Ruh al-Bayan, Isma'il Haqqi mencatat pendapat bahwa tsumma pada ayat ini bermakna sama dengan "dan", menggabungkan dua hal tanpa jeda waktu.13 An-Naisaburi menjelaskan bahwa jeda yang ditunjuk ayat itu adalah jeda dalam tampaknya pengaturan Allah pada ciptaan-Nya setelah ciptaan itu ada.13 Perubahan terjadi pada makhluk. 'Arsy diciptakan, langit dan bumi diciptakan, peristiwa berganti. Allah tidak berganti keadaan karena ciptaan-Nya muncul.

Tentang istiwa' sendiri, saya memegang jawaban Imam Malik yang diriwayatkan al-Baihaqi: istiwa' itu diketahui, cara-Nya tidak terjangkau akal, mengimaninya wajib, dan menanyakan cara-Nya adalah bid'ah.14

Ada satu hal yang perlu saya akui di sini. Ketika anak-anak kami bertanya bagaimana Allah menciptakan alam, saya menjawab: "Kun fayakun. Jadilah, maka jadilah ia. Karena itu mudah bagi-Nya." Kata maka dalam jawaban itu juga kata urutan. Saya memakainya tanpa merasa perlu menjelaskan apa-apa. Anak-anak juga tidak bertanya lebih jauh. Bahasa urutan ternyata sudah ada di mulut saya jauh sebelum ada orang yang memperdebatkannya.

IV. WADAH YANG TIDAK ADA

Kata ketiga, di dalam, datang dari pembaca lain. Ia bertanya: bagaimana kalau ruang dan waktu justru berada di dalam Allah?

Pertanyaan ini terdengar seperti kebalikan dari pertanyaan anak kami. Anak kami bertanya Allah ada di mana, seolah Allah berada di dalam suatu tempat. Pembaca ini bertanya apakah alam berada di dalam Allah, seolah Allah adalah tempatnya. Arahnya terbalik, tetapi kata yang dipakai sama. Di dalam adalah kata ruang. Ia mengandaikan ada wadah dan ada isi.

Dalam ilmu kalam ada prinsip bahwa Allah tidak menjadi tempat bagi hal-hal yang berubah. Ruang dan waktu terus berubah: mengembang, melengkung, bergerak. Kalau semua itu berada di dalam Dzat Allah, Dzat-Nya ikut berubah bersama mereka. Ath-Thahawi menulis bahwa Allah tidak diliputi oleh enam arah seperti semua makhluk.9 Allah tidak berada di dalam alam, dan alam tidak berada di dalam Allah.

Lalu bagaimana dengan ayat yang mengatakan Allah meliputi segala sesuatu? Al-Qur'an sendiri menjelaskan cara meliputi itu: wa annallaha qad ahatha bi kulli syai'in 'ilma, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu (At-Talaq: 12). Meliputi dengan ilmu dan kuasa, bukan meliputi dalam arti mengelilingi secara ruang.

Kata keempat, terbatas, datang dari pertanyaan yang ditujukan kepada seorang guru: kalau Dzat Allah tidak meliputi makhluk, apakah Dzat Allah terbatas? Pertanyaan ini memakai logika yang sama. Batas adalah sifat sesuatu yang membentang lalu berhenti di suatu titik. Sesuatu yang tidak membentang tidak bisa disebut terbatas, dan juga tidak bisa disebut membentang tanpa akhir. Ketika kita berkata Allah tidak terbatas, maksud yang benar adalah ilmu, kuasa, dan sifat-sifat-Nya tidak berujung. Maksudnya bukan Dzat-Nya memanjang ke segala arah tanpa henti.

V. ANGKA TUJUH TIDAK BERWARNA

Kata kelima datang sebagai balasan atas jawaban saya. Kalau Allah tidak berubah, bukankah itu berarti Allah diam? Dan bukankah diam juga sifat makhluk?

Pembaca itu benar bahwa diam adalah sifat makhluk. Kesalahannya ada pada anggapan bahwa pilihannya hanya dua.

Dalam ilmu kalam, gerak dan diam adalah pasangan. Bergerak berarti berpindah tempat dari satu saat ke saat berikutnya. Diam berarti tetap di tempat yang sama dari satu saat ke saat berikutnya. Keduanya membutuhkan tempat dan membutuhkan waktu. Karena Allah tidak bertempat dan tidak dilalui waktu, Allah tidak disifati bergerak dan juga tidak disifati diam.

Contoh yang paling mudah datang dari matematika. Apakah angka tujuh berwarna merah atau biru? Pertanyaan itu tidak punya jawaban yang benar. Angka tujuh tidak berwarna aneh. Angka memang bukan jenis sesuatu yang punya warna. Menolak "merah" tidak berarti menerima "biru".

Seorang penyair zaman Abbasiyah, Abu al-Atahiya, sudah menulis tentang pasangan ini lebih dari seribu tahun lalu: pada setiap gerak dan pada setiap diam ada saksi bagi Allah, dan pada segala sesuatu ada tanda bagi-Nya yang menunjukkan bahwa Dia Esa.15

Di syair itu, gerak dan diam ada di kelompok yang sama. Keduanya saksi. Keduanya ciptaan.

VI. MIMPI SIAPA

Kata keenam datang dari pertanyaan yang paling luas. Dalam satu tradisi Hindu, kata penanya, dunia material adalah mimpi Maha-Wisnu, sehingga Dzat Wisnu tidak berkurang oleh adanya makhluk. Apakah makhluk juga mimpi Allah?

Penjelasan yang ia kutip berasal dari tafsiran A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada atas Srimad-Bhagavatam, dari tradisi Gaudiya Waisnawa.16 Itu bukan pandangan seluruh umat Hindu, dan saya mencatatnya dengan hormat. Yang menarik bagi saya adalah alasan di balik pertanyaannya. Penanya ingin menjaga agar Tuhan tidak berkurang, tidak terbagi, tidak terpengaruh oleh adanya alam. Kekhawatiran itu sama dengan kekhawatiran ilmu kalam.

Tetapi Al-Qur'an menolak gagasan mimpi dengan dua alasan. Pertama, mimpi membutuhkan tidur, sedangkan Allah tidak mengantuk dan tidak tidur (Al-Baqarah: 255). Kedua, Al-Qur'an menegaskan bahwa ciptaan itu nyata dan bertujuan. Orang-orang yang berpikir berdoa, "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia" (Ali 'Imran: 191). Karena ciptaan itu nyata, manusia bertanggung jawab atas amalnya.

Ada juga masalah ketiga yang lebih halus. Mimpi berada di dalam pikiran orang yang bermimpi. Kata mimpi membawa kita kembali ke kata di dalam.

Saya tidak yakin jawaban ini memuaskan penanya. Ia bertanya tentang hubungan antara Yang Maha Ada dan yang diadakan, tanpa menjadikan keduanya satu dan tanpa menjadikan yang diadakan sekadar bayangan. Al-Qur'an memberi saya dua batas: alam itu nyata, dan alam itu bukan Allah. Di antara dua batas itu, para ulama menulis berjilid-jilid kitab. Saya belum membaca semuanya.

VII. SATU KATA YANG TERSISA

Setelah enam kata itu, ada satu kata ruang yang tidak menjebak.

Anak-anak kami pernah bertanya apakah Rasulullah bertemu Allah ketika Mi'raj. Para sahabat sendiri berbeda pendapat. Ibnu Abbas berkata Rasulullah melihat-Nya dengan hatinya. 'Aisyah menolak keras bahwa Rasulullah melihat Tuhannya.17 Saya menjawab anak-anak dengan apa yang saya yakini: Rasulullah menjadi semakin dekat kepada Allah, dan dekat itu bukan dekat jarak, karena ruang tidak berlaku bagi Allah. Dekatnya dekat batin.

Isra' Mi'raj banyak diriwayatkan terjadi setelah masa yang disebut 'Am al-Huzn, tahun kesedihan, ketika Rasulullah kehilangan Khadijah, istrinya, dan Abu Thalib, pamannya yang melindunginya.18 Para sejarawan berbeda pendapat tentang tanggal pastinya. Tetapi urutan yang diceritakan kepada kita jelas: kehilangan dulu, lalu diangkat mendekat.

Dekat adalah kata ruang, sama seperti di dalam dan terbatas. Tetapi Al-Qur'an memakainya untuk Allah, dan tidak ada yang tersesat karenanya: Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaf: 16). Tidak ada orang yang membaca ayat itu lalu mengukur jarak antara leher dan Tuhan. Semua orang paham bahwa dekat di sini bukan soal sentimeter.

Saya khatam Al-Qur'an di Pinrang, Sulawesi Selatan. Saya tidak ingat pasti siapa yang mengucapkannya, kemungkinan besar guru ngaji saya di sana, tetapi saya ingat kalimatnya, dan saya ingat ia memanggil saya "Mas": "Mas, Allah itu tidak sama dengan makhluk."

Ilmu saya waktu itu tidak seberapa, dan sekarang pun tidak seberapa. Saya hanya mengamini kalimat itu dan menyimpannya di dalam batin. Bertahun-tahun kemudian, ketika anak laki-laki kami bertanya Allah ada di mana, saya tidak menjawab dengan tempat. Saya memindahkan pertanyaannya. Waktu itu saya tidak tahu kenapa saya melakukannya. Sekarang saya kira saya tahu: kalimat guru ngaji itu sudah saya pegang jauh sebelum saya punya ilmu untuk menjelaskannya.

Yang berbeda saat ini, manusia berhasil mengumpulkannya. Ilmu jadi konsumsi setiap orang. Informasi melimpah. Kita hanya perlu seorang guru yang mulia yang menuntun kita.

Dan saat ini juga saya teringat dengan pesan Gus Mus yang saya hormati. “Jangan pernah berhenti untuk belajar”.

Biarlah akal terus bertanya, dan hati tetap bersujud. Di antara keduanya, ilmu menjadi jalan pulang untuk mengenal kebesaran-Nya.

Insya Allah.

Semoga Allah mengampuni kita semua.

Wallahu a'lam bishshawab.

REFERENSI

[1] R. V. Pound dan G. A. Rebka Jr., Apparent Weight of Photons, Physical Review Letters 4, 337, 1 April 1960; ulasan: APS Physics, The Weight of Light, Physical Review Focus 16, 1.

[2] Richard W. Pogge, Real-World Relativity: The GPS Navigation System, Department of Astronomy, The Ohio State University, diakses 25 Oktober 2026. Hitungan lengkapnya: Neil Ashby, Relativity in the Global Positioning System, Living Reviews in Relativity 6, 1, 2003.

[3] Astronomy.com, Nov. 6, 1919: Einstein is right, diakses 24 Oktober 2026.

[4] Spaceflight Now, Astronomers capture first image of black hole's event horizon, 10 April 2019.

[5] Ethan Siegel, Big Think (Starts With A Bang), tentang singularitas di dalam lubang hitam, 4 Juni 2026.

[6] Arvind Borde, Alan H. Guth, Alexander Vilenkin, Inflationary Spacetimes Are Incomplete in Past Directions, Physical Review Letters 90, 151301, 15 April 2003.

[7] Tufts Now, What Happened Before the Big Bang?, 29 Mei 2012.

[8] Shahih al-Bukhari, Kitab Bad' al-Khalq, hadits no. 3191, dari 'Imran bin Hushain.

[9] Abu Ja'far ath-Thahawi, Matn al-'Aqidah ath-Thahawiyyah, Wikisource Arab, diakses 24 Oktober 2026.

[10] Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr wa ad-Du'a, hadits no. 2713, dari Abu Hurairah; juga Sunan Abi Dawud no. 5051 (Dorar.net).

[11] Islamweb, معنى قوله تعالى ثم استوى على العرش, fatwa no. 463189 (mengutip asy-Syaukani, Fath al-Qadir, dan Ibnu Taimiyah, Bayan Talbis al-Jahmiyyah), diakses 24 Oktober 2026.

[12] Shiddiq Hasan Khan, Fath al-Bayan, tafsir Al-A'raf: 11 (mengutip as-Samin al-Halabi, ad-Durr al-Mashun), Quranpedia, diakses 24 Oktober 2026.

[13] Walid bin Ahmad al-Shalah, Nushush Mufassiri as-Salaf wa al-Khalaf fi Ayat al-Istiwa' (Al-A'raf: 54), jilid 3 (mengutip Isma'il Haqqi, Ruh al-Bayan 3/174, dan an-Naisaburi, Ghara'ib al-Qur'an 3/246-252), diakses 24 Oktober 2026.

[14] Alukah, في صفة الاستواء (mengutip al-Baihaqi, al-Asma' wa ash-Shifat 2/305-306), diakses 24 Oktober 2026.

[15] Abyat Mukhtarah, Bab Abyat fi al-'Aqidah, Matabi' al-Humaidhi, 1422 H / 2001 M (mengutip Diwan Abi al-'Atahiyah, hlm. 104).

[16] A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Srimad-Bhagavatam 4.29.83, Purport, diakses 24 Oktober 2026.

[17] Shahih Muslim, Kitab al-Iman, riwayat Ibnu Abbas dan riwayat Masruq dari 'Aisyah.

[18] NU Online, Hari-hari Penuh Duka Menjelang Isra' Mi'raj, diakses 24 Oktober 2026.